Perbedaan Pola Pemberian Nutrisi pada Balita dengan Stunting dan Non-Stunting di Desa Rempoah Kecamatan Baturaden

Authors

  • Lely Oktavia Ningtias Affilation muhammadiyah purwokerto university
  • Umi Solikhah Affilation muhammadiyah purwokerto university

DOI:

https://doi.org/10.32584/jika.v3i1.529

Keywords:

Balita, Pola Pemberian Nutrisi, Stunting

Abstract

Stunting adalah kegagalan memenuhi pertumbuhan seperti memenuhi mikronutrien, lingkungan yang tidak mendukung dan penyediaan perawatan yang tidak adekuat yang dapat mempengaruhi kondisi pertumbuhan balita. Asupan gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting. Mengetahui Perbedan pola pemberian nutrisi pada balita dengan stunting dan non-stunting di Desa Rempoah Kecamatan Baturaden. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan observasi analitik, dengan desain cross sectional . Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok kasus yaitu balita stunting dan kelompok kontrol yaitu balita non stunting. Jumlah sampel 68 terdiri dari 34 balita  stunting dan 34 balita non stunting, dengan metode teknik cluster sampling pengambilan sampel secara purposive sampling Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner, analisa data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu pada balita yang mengalami stunting pola pemberian nutrisi tidak tepat terdiri dari 26 responden (76,5%) dan sebagian besar ibu pada balita yang non-stunting pola pemberian nutrisi tepat terdiri dari 23 responden (67,6%). Terdapat perbedaan pola pemberian nutrisi pada balita dengan stunting dan non-stunting di Desa Rempoah Kecamatan Baturaden (p-value= 0,0001). Terdapat Perbedaan Pola Pemberian Nutrisi Pada Balita Dengan Stunting dan Non-stunting Di Desa Rempoah Kecamatan BaturadenStunting is a condition resulted from the  failure to meet daily needs of micronutrients. An environment that is not supportive and providing inadequate treatment can affect the conditions of toddlers' growth. Nutrient intake is one of the factors that influences stunting.To illustrate the differences in providing nutritional pattern for toddlers with stunting and non-stunting in Rempoah village, Baturaden sub district. It was a quantitative study using analytic observation with a cross sectional design. The populations in this study were stunting toddlers as the case groups and non-stunting toddlers as the control group. There were 68 toddlers as the samples. There were 34 stunting toddlers and 34 non-stunting toddlers who classified by cluster sampling technique. The samples were collected by purposive sampling. Questionnaire sheets were used to collect the data. The data were analyzed by using Chi-square test. The results discovered that there were 26 respondents (76.5%) with stunting because of improper nutritional patterns. There were 23 respondents (67.6%) with non-stunting because of proper nutritional patterns. There were differences in the administration of nutritional patterns for toddlers with stunting and non-stunting in Rempoah Village, Baturaden District (p-value = 0,0001). There are differences in administration of nutritional pattern for toddlers with stunting and non-stunting in Rempoah village, Baturaden sub-district

References

Anugraheni, H. S. (2012). Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-36 Bulan di Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Journal Of Nutrition College.

Bappenas dan Unicef. (2017). Laporan Baseline SDG Tentang Anak-Anak di Indonesia

Depkes RI. (2015). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Fatimah, S., Nurhidayah, I. dan Rakhmawati, W. (2008) ‘Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap Status Gizi pada Balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya’, pp. 37-51

Kemenkes RI. (2015). Situasi dan Analisis Gizi. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI

Kemenkes RI. (2017). Buku Saku Pemantauan Status Gizi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Kesehatan RI. (2018). Buku Saku Pemantauan Status Gizi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Kumala, M. (2013). Hubungan Pola Pemberian Makan dengan Status Gizi Anak Usia Toddler (1-3 Tahun) di Posyandu Kelurahan Sidomulyo Godean Sleman. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran

Mardani, R. A. D. danWetasin, W. (2015). Faktor Prediksi yang Mempengaruhi Stunting pada Anak Usia di Bawah Lima Tahun. KEMAS Jurnal, 11 No. 1. Hal 1-7

Mca Indonesia. (2015). Stunting dan Masa Depan Indonesia

Mikhail W.Z.A. dan Sabhy H. M . (2016). Effect of nutrition

Naendra, M, dkk 2002. Panduan Gizi bayi, Jakarta: Puspa Swara.

Ni’mah, K., & Nadhiroh., S.R (2015). Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Media Gizi Indonesia, Vol 10 No 1, 13-19

Riyadi, et al . (2011) Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita. Bogor : Jurnal gizi pangan.

Souganidis E.(2016). The relevance of micronutrients to tht prevention of stunting. Sight and life. Jakarta: Medan

Subarkah, T. dan Nursalam. et al. (2016). Pola Pemberian Makan Terhadap Peningkatan Status Gizi pada Anak Usai 1 – 3 Tahun (Feeding Pattern Toward the Increasing of Nutritional Status in Children Aged 1 – 3 Years ). Jurnal Injec, ,Hal.146–154

Suharyanto H. (2011). Ketahanan Pangan. Jakarta: Surabaya

Unicef (2013) Famework : Schenatic overview of the factors known from international experience to cause chronic malnutrition, or stunting

Priyono, D. I. P et al. (2015). Determinan Kejadian Stunting pada Anak Balita Usia 12-36 bulan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Hal 349-355

Downloads

Published

2020-05-31

Issue

Section

Articles